When mind say NO and
heart say YES
What will happened ?
Desir angin bertiup kencang sore ini, seperti
biasa Lala gadis SMA yang tinggal bersama om dan tantenya, menunggu kedatangan
bus untuk mengantar ia pulang ke rumah. Tik..Tok..Tik..Tok waktu terus berjalan,
tidak ada tanda-tanda angkutan umum melintas, "akankah aku harus menunggu
lebih lama lagi ?" ucap Lala dalam hati. Tidak lama kemudian hujan turun
sangat deras, tanpa berpikir panjang Lala mencari tempat untuk berteduh sembari
menunggu bus.
"Hai" terdengar suara begitu lembut
menyapanya. Lala terdiam, udara yang semakin dingin membuat dia semakin tidak
bisa berkata-kata. "Hallo?" Suara itu terdengar lagi dan semakin
jelas, sesaat Lala terdiam, terlihat tangan terlambai di depan matannya. "
Eh, iya, Ha..Hallo" jawab Lala terbata-bata, jantungnya berdebar sangat
kencang. Lala tak pernah menyangka, cowo terpopuler di SMA yang menjadi idaman
banyak wanita termasuk Lala, menyapa dia di saat-saat seperti ini. Apa yang dia
lakukan disini? Dan mengapa dia menyapaku? Begitu banyak pertanyaan muncul
dalam pikirannya. "Gue duduk di sini ya, lagi mau berteduh nih, gue ga
bawa jas hujan." Kata Derick, ya Derick namanya. Tanpa berpikir panjang
Lala mengangguk dan menundukan kepalanya. Dia tidak sanggup melihat lelaki yang
dia idolakan sejak duduk di bangku SMP berada tepat didepannya. Tidak ada
percakapan lagi, hanya suara hujan deras yang terdengar. 15 menit berlalu tanpa
ada 1 kata pun yang terucap, jantung Lala berdebar kencang, ditambah dnegan
udara yang semakin dingin membuat tubuhnya kaku tak bergerak.
Jam menunjukan pk. 18.00 , hujan terlihat mulai
reda, Derick bersiap untuk melanjutkan perjalananya, Lala masih terdiam sambil
menundukan kepalanya. "Yuk Pulang", Kata Derick. Lala memberanikan
diri untuk mengangkat kepalanya dan menatap mata indah itu. "I...iyaa.
Hati-hati ya." Jawab lala sambil tersenyum. "Hati-hati? Ayo balik
sama gue." Kata Derick sambil menyiapkan motornya untuk mengantar Lala
pulang. "Ha? Siapa? Gue?" Tanya Lala dengan wajah polosnya. " Yaiyalah
elo, sini buruan gue anterin lo pulang. Aman kok tenang aja." Jawab Derick
setelah menyalakan motornya. Lala tidak tahu keanehan apa yang sedang terjadi,
apakah ini mimpi? Enam tahun aku mengaguminya tanpa pernah berkata satu patah
kata pun, dan sore ini aku akan pulang ke rumah bersamanya? Ini Gila. Kata Lala
dalam hatinya. "Ayo buruan. ntar keburu deras lagi hujannya" Kata
Derick dengan nada yang lembut. " Iya, maaf ya aku jadi ngrepotin
kamu." Ucap Lala sembari naik ke atas motor. Derick tersenyum kecil.
“Makasih ya Der” kata Lala seketika sampai di
rumahnya. “Iya sama-sama, rumah kita deket, besok berangkat sama gue aja lg,
gue jempupt jam setengah 7 ya. Ohya gue balik dulu. Sampe ketemu besok” Kata
Derick sambil tersenyum dan pergi meninggalkan Lala. “What? Gue belum jawab
apa-apa dan dia besok mau jemput gue? Gila, mimpi macam apa ini. “La, dianterin
sama siapa tadi?”, “ Eh tante, i..iya.. a..anuu tan..sama..sama temen kok, tan.”
Jawab Lala sambil tersenyum. “Ya sudah sana ganti baju dan makan malam, tante
udah siapin semuanya, jangan lupa nanti antar pesanan ke rumah Bu Endah ya, La”
Kata tante kepada Lala sambil menutup pagar rumah. :Iya tan, kalo gitu Lala
masuk dulu ya.” Lala berkata sambil berlari ke kamarnya.
Malam ini Lala tidak bisa tidur, dia terus
menerus memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi. Mengapa semua hal yang
terlihat tidak mungkin menjadi begitu mungkin hari ini. Ini Gila, benar-benar
gila.
Keesokan paginya, “Tante, Lala berangkat dulu
ya.” Kata Lala, berlari sambil memakan roti sarapannya. Dan sesuai dengan janji
Derick, dia pun siap berangkat ke sekolah bersama Lala. Begitu juga saat pulang
sekolah, mereka pulang bersama. Betapa bahagianya hati Lala, meski tidak tahu
apa yang sebenarnya sedang terjadi, hatinya berbunga-bunga. Begitu juga selama
2 minggu ini, mereka menghabiskan waktu bersama, di sekolah, jalan-jalan,
bahkan saat di rumah masing-masing mereka tetap berkomunikasi melalu
smartphone. 3 minggu berlalu.
“La, Om mau bicara sama kamu” Kata Om Roni
kepada Lala saat makan malam. “Iya, ada apa om?” Tanya Lala sembari makan nasi goreng
buatan tante Dewi. “Om, minta kamu jauh-jauh dari yang namanya Derick itu,
jangan pernah berhubungan dengan dia lagi”. Sesaat setelah mendengar hal itu,
seolah-olah awan mendung menguasai hati Lala. “Lho, ada apa ini, om ? Lala ga
ngerti deh” Jawab Lala dengan nada cukup tinggi. “ Kalo om bilang jauhin, ya
jauhin. Bila perlu kita pindah rumah supaya kamu tidak usah berangkat dan
pulang sekolah bersama dia!” Lala mulai meneteskan air matanya dan berkata “Apa
yang sebenarnya terjadi? Apa alasannya , om?”..”Om, jawab Lala , Om!” Lala tak
kuasa menahan air matanya. “ Kamu tahu, orang tua Derick telah membunuh orang
tuamu! Dulu ayahnya Derick bukan siapa-siapa, dia iri dengan ayahmu, lalu dia
menyingkirkannya dengan cara membunuhnya. Kamu lupa ibumu sakit memikirkan
ayahmu yang meninggal dan akhirnya ibumu juga meninggal. Om tidak mau kamu
berhubungan dengan anak pembunuh itu!” Lala berlari ke kamar dan mengunci
kamarnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Derick. Di sisi lain
dia mengagumi Derick selama enam tahun dan mulai tumbuh benih-benih cinta dalam
hatinya kepada Derick setelah melalui 3 minggu yang luar biasa menyenangkan dalam
hidup Lala. Tapi di sisi lain , dia tidak bisa memaafkan orang yang telah
membunuh orang tuanya secara keji. “Ya Tuhan, apakah cinta ini salah? Dan
mengapa harus dia?” Hanya itu yang muncul dalam benak Lala
“Kamu kenapa sih, La? Cerita dong kalo ada
masalah, aku gak mau kamu diem gini.” Desak Derick saat di sekolah. Lala terus
berjalan tanpa menghiraukan Derick. Saat jam istirahat Lala duduk di halaman
belakang sekolah sambil melamun. “Bunga
mawar yang indah ini untuk Lala-ku yang lebih indah dari bunga mawar manapun”
Kata Derick yang tiba-tiba muncul di belakang Lala sambil membawakan bunga
mawar merah yang indah. Lala tak kuasa menahan hatinya, dia tidak bisa
mengatakannya pada Derick,dan di sisi lain, hati ini sungguh sakit.
Dua hari berlalu , Derick tidak berhenti untuk
terus membuat Lala tersenyum dan mau mengatakan yang sejujurnya. Sampai pada
suatu hari, “La, dari sekian banyak wanita yang ada, kamu yang selalu menarik
perhatianku. Cewek cupu yang tiba-tiba masuk ke kelas 8A dan bilang “Selamat
pagi, namaku Lala”, Sejak saat itu lah, aku tertarik sama kamu. Tapi aku ga
pernah berani mengatakannya , La, hingga saat hujan itu tiba, semua berubah.
Please, La, cerita sama aku, apa yang membuatmu begini? Aku sayang sama kamu,
sangat sangat sayang. Aku selalu berusaha melindungi kamu dan diam-diam
memperhatikan kamu tanpa kamu sadari, dan setelah mengenal kamu lebih dalam,
aku semakin nyaman dengan perasaan ini, La.” Kata Derick. Jadi selama ini yang
selalu melindungi Lala dari bully an teman-temannya adalah Derick, yang selalu
membantu Lala saat terjadi sesuatu padanya adalah Derick. Yang menjaga Lala
ketika menunggu bus, ketika mengantar pesanan ke orang-orang, ya semua itu
adalah Derick. Selama enam tahun, perasaan itu tidak berubah. Meski banyak
wanita yang tertarik dengan Derick, namun takdir berkata lain. “Maaf, Der, aku
sayang sama kamu, tapi kita tidak di takdirkan untuk bersama.” Jawab Lala
tertatih dan pergi meninggalkan Derick dengan meneteskan air mata.
“Saling mencintai bukan
berarti saling memiliki. Apakah cinta ini salah? Akankah dua orang yang saling
menyayangi ini harus terpisahkan karena masa lalu orang tua mereka? Oh, Tuhan,
apa yang harus aku lakukan? Rasa cintaku begitu besar, tak pernah ku rasakan
sebelumnya. Cinta pertama ini akan menjadi cinta yang terakhir pula, akan
tetapi apakah cinta ini akan berakhir dengan kepergian? When mind say No but heart
say Yes, what will happened ?
-17-